Pada dasarnya bantuan langsung sementara
masyarakat (BLSM) sangat bernilai positif bagi masyarakat yang tergolong kurang
mampu atau benar-benar miskin, namun kesempatan ini dimanfaatkan oleh partai
politik yang ingin mendapat pencitraan baik dari rakyat yang mendapatkan BLSM.
Disamping itu kebijakan pemerintah untuk menaikan harga BBM disahkan juga,
dengan dalih penghematan APBN pemerintah tega menjadikan rakyat sebagaikorban.
Sebagai pelipur lara atau daya tarik,
pemerintah mengucurkan dana BLSM (bantuan langsung sementara masyarakat)
sebesar Rp.150.000 perkepala keluarga. Pemerintah berharap dampak kenaikan
harga BBM mampu diredam dengan adanya BLSM, raskin, bantuan siswa miskin,
program keluarga harapan dan program infrastruktur dasar khususnya di pedesaan.
BLSM menjadi realita bahwa sebagian orang berpendapat tidak
efektif,
1.
Sistem
pendataan yang tidak akurat menyebabkan penyaluran yang tidak tepat sasaran
2.
Dalam
menghadapi pemilu 2014, kebijakan BLSM bernuansa politis
3.
BLSM
tidak memberikan solusi, bahkan tidak dapat mencegah inflasi
4.
BLSM
berpotensi menimbulkan konflik dimasyarakat karena skala yang terbatas
5.
BLSM
dinilai memiliki sistem yang sama dengan BLT.
Lebih dari itu, meski harga BBM di naikan
namun subsidi tetap saja dalam angka Rp120 triliun akibat konsumsi yang
meningkat, serta ditambah BLSM berkisar antara Rp180 triliun. Nampak terkihat
permainan kebijakan member bersubsidi. Hal ini dapat menimbulkan peluang
pencurian dan korupsi serta penyelundupan BBM dapat menjadi suatu hal yang
dilestarikan dan dilanjutkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar